Pages

Monday, January 21, 2019

Untuk Mas #3

Hi mas Karil
Apa kabar?

Aku ngga tau pasti bagaimana kabarmu sekarang karena kita ngga chatan sekarang-sekarang ini, tapi sepertinya baik-baik saja, terlebih sekarang sedang berada di Bogor bersama keluarga.

Mas, saat aku menulis post ini, aku ngga tau sebenarnya apa mas udah sempat melihat inbox emailmu atau belum, karena sebenarnya ada sesuatu yang aku ceritakan lewat situ.
Maaf ya mas, aku memilih lewat email untuk cerita, karena ku harap di inboxmu itu nanti, pesanku akan lebih tersimpan daripada sekedar lewat chat yang bisa saja tiba-tiba ke-end chat.

Mas Karil, I need you here, right now.

Aku tau sebenarnya emang gaakan ada gunanya berharap ini karena memang sudah pasti ngga mungkin terjadi karena mas emang udah beli tiket di tanggal tertentu. Tapi, bodohnya aku adalah masih ada sedikit harapan kalo mas bisa ke sini lebih awal. Haha. Kesalahan klasik manusia memang; masih mengharapkan sesuatu yang udah tau ngga akan terjadi.

Tau ngga mas, saking berharapnya, 2 hari ini di mana kita ngga chatan dan mas ngga ngasih kabar seharian, aku berpikir itu terjadi disengaja karena kamu sebenarnya lagi di kereta menuju ke sini, lalu datang ke rumah sebagai kejutan, kayak waktu itu. Haha iya tau itu konyol, tapi sejujurnya aku selama 2 hari ini selalu berada dekat jendela dan stand by HP, siapa tau tiba-tiba ada chat 
"Karil di depan" 
dan bisa langsung aku lihat dari jendela. 
Tapi nyatanya, pesan itu memang tidak mungkin ada, dan hilangnya mas tanpa pernah nyariin aku pun memang bukan karena lagi di perjalanan menuju Malang seperti keinginanku, karena tadi tiba-tiba mas ngechat ngasih tau kalo habis pulang selesai nge-Grab di hari itu.

Mas, kemungkinan kamu sudah baca dan sudah tau apa yang sedang terjadi di kehidupanku dan apa yang aku rasakan saat ini. Aku sendiri memang yang bilang sedang mau mengasingkan diri, termasuk ke mas, makanya aku menahan diri untuk tidak menghubungimu dan tidak membalas pesanmu, walau aku tau ada notifikasi pesan dari mas (bahkan sebenarnya aku sangat menantikan ada notifikasi pesan darimu mencariku dan mencoba bicara denganku, mas gatau secepat apa aku ngecek HP kalo bergetar menandakan ada notifikasi pesan masuk haha). 

Tapi sejujurnya aku sedih, karena ternyata mas tidak mencariku sama sekali. 
Hanya mengirim pesan menandakan kalo mas mau berangkat dan saat mas sudah pulang. 
Sudah. Hanya itu saja. 

Aku sangat sedih melihat kondisi kayak gini, karena mas pasti tau aku kayak gimana; sekeras kepalanya aku bilang gamau chat dan itu semua cuma karena aku sedang minta perhatianmu. Tapi ternyata kali ini mas benar-benar seperti tidak peduli dan mengabaikanku begitu saja.
Aku tau pasti mas punya alasan sendiri, salah satunya mungkin karena mas mau memberiku waktu menyendiri karena emosiku akhir-akhir ini memang sangat amat labil. Tapi.....kamu kemana mas? Kamu lagi kenapa? Benar-benar tidak mau mencari dan menghubungiku kah?
24 jam lebih, dan tidak ada pesan mencariku, dan dalam 24 jam lebih hanya ada 3 pesan dan itupun hanya pemberitahuan mas mau berangkat dan sudah pulang. Itu bukan mas banget.
Tapi yasudah lah, toh aku sendiri yang bilang mau menghilang dulu,  hehe.

Btw mas, aku bertekad baru akan membalas pesan-pesanmu kalo notif darimu sudah di angka tertentu, haha konyol memang tapi ini sungguhan. Karena entah mengapa untuk saat ini aku merasa useless dan ingin merasa kalau aku sedang dinanti dan dibutuhkan seseorang.
(Dan hingga saat ini, ternyata aku belum dinanti sama mas)

Tapi sebenarnya,
I need you, Mas. I really need you, here, right now :(
Semoga kita bisa segera berjumpa, karena dengan melihatmu secara langsung saja, itu sudah cukup membuatku tenang.

Sunday, November 4, 2018

4 November yang ke-3

Hai, mas
Ngga kerasa ya, sekarang udah 4 November lagi
Masih lucu aja kalo diinget, pas tahun 2015 tiba-tiba ada notif di Lineku dari mas, isinya minta follback instagram. Padahal mah, intinya bukan minta follback, tapi basa-basi mau ngajak kenalan. Hahaha

It's been 3 years since we knew each other, tapi kayak ngga berasa gitu yah
Yaa 3 tahun memang masih singkat sih, terlebih dilalui bersamaan dengan masa kuliah yang tiba-tiba kita udah di tingkat akhir, padahal kita kenal pas masih maba haha

Mas
Terimakasih ya
Selama 3 tahun ini, banyak banget hal yang terjadi di kehidupan pribadiku, mulai dari berada di puncak sampai jatuh bebas ke paling dasar
Terimakasih udah sabar selalu menemani dan menyemangatiku melalui masa-masa itu
Terimakasih karena mas ngga pernah nyerah dan gapernah berpikiran untuk ninggalin satu kali pun
Beda banget sama aku, yang orangnya gampang banget pesimis

Dari mas aku belajar banyak hal
Tentang bagaimana harus bersikap dan berucap kalo lagi emosi
Tentang bagaimana melalui semua masalah, berprinsip bahwa semua hal pasti ada solusinya
Dan yang penting, tentang bagaimana untuk ngga pernah nyerah

Aku tau mas adalah tipe yang berpegang teguh sama prinsipnya, susah banget untuk ngubah prinsipnya
Jadi, prinsip mas tentang 
"semua masalah pasti ada solusi yang bisa dilakuin bareng-bareng, dan kata 'pisah' gaakan pernah ada di list untuk jadi solusi
semoga juga termasuk prinsip yang ngga pernah berubah ya

Kedepannya masih akan ada banyak hal, banyak roller coaster yang akan mas, aku, dan/atau kita lalui
Semoga masih bisa melalui 4 November di tahun-tahun selanjutnya dengan masih bersama-sama
:)

Friday, October 26, 2018

Untuk Mas #1

Halo mas,
Postingan ini khusus untuk kamu mas
Disini ku mau sangat amat berterima kasih
Terimakasih karena tidak pernah menyerah untuk kita :)

Mas, aku aja loh suka nyerah sama diri aku sendiri. Capek ngeliat diri sendiri yang suka tiba-tiba marah, stress, nangis, dll kayak orang gila
Dan ga cuma sekali dua kali mas yang jadi korbannya...tapi nyatanya mas tetap mau nemenin, tetap siap sedia di sampingku, bahkan gapernah kebawa emosi walau emosiku udah meledak

Ga cuma sekali dua kali aku berpikiran untuk menyudahi semua ini, bukan karena aku ingin, tapi memang aku kasian dan ga tega sama kamu. 
"You're too perfect for this insane girl. You waste your precious time dealing with this stupid girl."
Itu yang kupikirkan setiap kali ku sedang gila.

Tapi ternyata mas gapernah sekalipun mengiyakan. Mas yang biasanya ngalah kalo ku lagi emosi, tapi gapernah ngalah kalo udah tentang itu, walau mungkin udah pernah kebawa emosi, tapi kata 'ya' (syukurlah) memang tidak pernah terucapkan.
Instead, you're just smiling calmly at me while hold me tight, which makes me realize at that moment that it's so stupid thinking about the end.